
Jumat, 23 Januari 2026 para Bruder CSA Mbay mengadakan syukuran atas rahmat 25 tahun hidup membiara Br. Albert, CSA dengan moto “karena itu aku berkata padamu: Janganlah kuatir akan hidupmu”. sama seperti dengan moto yang dipilih oleh Br.Albert CSA, dalam menyiapkan perayaan syukuran ini tidaklah mudah, karena para bruder memiliki waktu yang tidaklah begitu banyak mengingat banyaknya kegiatan yang harus diikuti para bruder yang berkarya disekolah sebagai bentuk pelayanan dalam tugas perutusan yang dijalani. Tapi Tuhan berkata lain dengan menghadirkan para guru, karyawan, anak asrama, warga KUB St. Marta yang senantiasa membantu dalam menyiapkan perayaan syukuran ini sehingga bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Keterlibatan mereka menjadi bentuk dan pengaplikasian PKD dalam lingkugan komunitas Bruder CSA Mbay, yang mana mereka bersedia dan rela untuk meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk membantu, dan itulah salah satu bentuk uluran tangan Tuhan dan sesuai dengan moto janganlah kuatir akan hidupmu karena Tuhan akan memberikan jalan untuk bisa mengarunginya.

Dalam kegiatan ini memang tidak semua undangan bisa hadir karena faktor cuaca dan kesibukan masing-masing tetapi itu lebih dari cukup untuk memeriahkan acara ini dan juga sebagai bentuk dukungan bagi Br. Albert dan juga Para Bruder lainnya agar tetap setia dalam panggilan dan tugas perutusannya masing-masing. Para undangan yang tidak sempat hadir juga memberikan motifasi dan juga dukungan melalui doa-doa yang mereka berikan bagi kami, dan kami Para Bruder Komunitas CSA Mbay, merasa sangat bersyukur karenanya.
Perayaan Ekaristi syukur 25 tahun hidup membiara Br. Albert dipimpin oleh Pater Ignas, SVD. Dalam homilinya, Pater Ignas menyampaikan sekelumit perjalanan panggilan hidup Br. Albert yang penuh dinamika dan rahmat. Br. Albert merupakan anak tunggal. Saat ini ibunya telah meninggal dunia, sementara ayahnya sudah lama tidak ia temui. Pada awalnya, Br. Albert memiliki kerinduan untuk menjadi seorang imam. Ia memulai langkah panggilannya dengan masuk Seminari Santo Rafael Oepoi, Kupang. Namun, perjalanan itu tidak berlangsung lama sehingga ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA lain. Dari pengalaman tersebut, Br. Albert perlahan mengalihkan arah panggilannya: dari cita-cita menjadi imam, ia akhirnya memilih jalan hidup sebagai seorang bruder. Kerinduan yang mendalam untuk hidup membiara pada akhirnya menuntunnya untuk bergabung dan berlabuh di Kongregasi Bruder Santo Aloisius (CSA).

Br. Suryadi, mewakili para bruder, menyampaikan ucapan proficiat atas kesetiaan Br. Albert selama 25 tahun hidup membiara. Ia juga mengungkapkan terima kasih kepada keluarga yang telah mendukung perjalanan rohani Br. Albert sejak awal. Dalam sambutannya, Br. Suryadi menyinggung semangat Santo Yusuf sebagai seorang tukang kayu yang rendah hati dan setia dalam karya pelayanannya. Semangat inilah yang tampak nyata dalam diri Br. Albert, yang melayani dengan setia melalui kemampuan dan keterampilannya di bidang perkayuan. Secara khusus, Br. Albert juga dikenal karena kesediaannya melayani umat, terutama dalam pelayanan upacara penguburan.
Pada kesempatan yang sama, Bapak Elias Jo, tokoh masyarakat Mbay, menyampaikan rasa terima kasih atas pengabdian Br. Albert serta mengungkapkan syukur atas kehadiran para bruder yang berkarya di wilayah Nagekeo, khususnya di Mbay.
Dalam sambutannya sebagai sang yubilaris, Br. Albert menyampaikan kesaksian hidup yang sangat mendalam. Ia mengakui bahwa ketika berkarya di Ruteng sebagai bruder yang melayani di bengkel kayu, hidup rohaninya sempat mengalami kekeringan. Ia jarang berdoa dan jarang berkumpul bersama para bruder dalam komunitas. Fokusnya lebih tertuju pada pekerjaan dan pencapaian target, bahkan sampai pada titik di mana ia menghalalkan segala cara, termasuk membeli kayu ilegal.

Akibat dari pilihan tersebut, Br. Albert ditangkap oleh polisi dan harus berada di dalam sel selama kurang lebih empat jam. Di tempat itulah ia mengalami sebuah kesadaran yang mendalam bahwa ia sedang berada di jalan yang keliru. Pengalaman masuk tahanan itu menjadi teguran keras dari Tuhan—sebuah panggilan untuk berhenti, berefleksi, dan berbalik arah.
Sejak saat itu, hidup Br. Albert berubah. Dengan penuh kerendahan hati ia menegaskan bahwa perubahan tersebut bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena Tuhan yang Mahasetia. Dalam sambutannya ia berkata bahwa bukan dirinya yang setia, melainkan Tuhanlah yang selalu setia. Karena kesetiaan Tuhan itulah, ia dapat sampai pada perayaan 25 tahun hidup membiara ini. Meskipun ia menyadari keterbatasan dan ketidaksetiaannya sebagai manusia, Tuhan senantiasa setia menyertai dan menuntun setiap langkah hidupnya. Oleh karena itu, kini ia tidak lagi merasa khawatir, sebab ia percaya Tuhan selalu setia menemani perjalanan hidup dan panggilannya.

Sebagai penutup, Br. Albert menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus: kepada Tuhan, kepada para bruder, kepada Bapa dan Mama, serta kepada semua yang hadir dan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan panggilan sucinya.
By: Blank




