MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI: RETI DAN KEBERPIHAKAN PADA ANAK USIA DINI

Oleh: Falentina Lestiana Dua, S.Pd

[email protected]

Ditengah kesibukannya sebagai siswi SMK Gonzaga Mbay, Reti menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam pelayanan sekolah minggu di komunitas umat basis St. Marta. Setiap hari sabtu sore ia datang lebih awal untuk menyiapkan ruangan menyusun alat peraga sederhana serta melatih lagu-lagu rohani yang akan dinyanyikan bersama anak-anak. Bagi reti pelayanan ini bukan sekedar rutinitas melainkan panggilan hati untuk berbagi kasih dan perhatian. Saat ini terdapat kurang lebih 14 orang anak yang aktif mengikuti kegiatan Sekolah Minggu. Jumlah ini mungkin tidak banyak, tetapi bagi Reti setiap anak adalah pribadi yang unik dan berharga. Ia mengenal mereka dengan baik ada yang aktif dan penuh semangat, ada yang pemalu, ada pula yang membutuhkan perhatian lebih.

Peran Reti dalam pelayanan ini juga menjadi wujud nyata kepeduliannya terhadap masa depan gereja. Ia menyadari bahwa anak-anak merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan dan pelayanan gereja di masa depan. oleh karena itu, melalui kegiatan Sekolah Minggu, Reti berusaha menanamkan nilai-nilai iman, kebersamaan, dan kasih sejak usia dini. Ia berharap  anak-anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter baik, dan siap mengambil bagian dalam kehidupan gereja ketika mereka dewasa. Selain itu, keterlibatan Reti dalam kegiatan kerohanian juga memberikan inspirasi bagi teman-temannya di sekolah. Sikapnya menunjukkan bahwa seorang pelajar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga perlu memiliki kepedulian terhadap kehidupan spiritual dan pelayanan kepada sesama. dengan semangat tersebut, Reti menjadi contoh bahwa generasi muda dapat berperan aktif dalam membangun komunitas yang beriman dan penuh kasih.

Dalam pelayanan ini, Reti tidak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh Bruder Viktor, yang dengan setia membimbing dan mengarahkan jalannya kegiatan Sekolah Minggu. Bruder Viktor memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pembina iman bagi para pelayan muda. Ia membantu Reti dalam menyusun materi yang sesuai dengan usia anak-anak, memberikan arahan tentang metode pembelajaran yang ramah anak, menguatkan secara rohani agar pelayanan dilakukan dengan niat yang tulus, mengevaluasi setiap pertemuan agar semakin berkembang dan berkualitas. Bruder Viktor sering mengingatkan bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas mulia karena menyangkut masa depan Gereja. Ia menekankan pentingnya keteladanan hidup. Menurutnya, anak-anak belajar lebih banyak dari sikap dan tindakan daripada dari kata-kata. Ia juga mengajarkan kepada Reti bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam mendampingi anak usia dini. Ketika ada anak yang sulit diatur atau mudah menangis, Bruder Viktor tidak langsung menegur keras, tetapi menunjukkan cara mendekati dengan lembut dan penuh empati. Kehadiran Bruder Viktor menjadi sumber kekuatan bagi Reti. Ia merasa didukung, dibimbing, dan diteguhkan dalam panggilannya melayani.

Reti juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap anak-anak dalam kegiatan sekolah minggu. Ia berusaha agar anak-anak selalu hadir dan mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Salah satu upaya yang dilakukan Reti adalah dengan membuat grup whatsapp bersama orang tua agar informasi tentang kegiatan dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu sebelum kegiatan dimulai Reti juga sering berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajak anak- anak agar datang mengikuti latihan. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan ia mengingatkan dan menyemangatkan mereka agar tidak melewatkan kegiatan yang sangat bermanfaat tersebut. Tidak jarang Reti bahkan menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli permen bagi anak-anak. hal itu ia lakukan agar anak-anak senang dan bersemangat  mengikuti kegiatan. Melalui perhatian dan pengorbanan yang tulus Reti menjadi inspirasi bahwa pelayanan kepada sesama dapat dimulai dengan hal-hal kecil yang dilakukan dengan nhati dan penuh kasih.

Dalam setiap pertemuan, Reti bersama Bruder Viktor menyampaikan materi yang sederhana namun bermakna. Tema-tema yang diajarkan antara lain: Yesus Penolongku: Anak-anak diajak percaya bahwa Yesus selalu menyertai dan menolong mereka dalam setiap situasi. Kejujuran: anak-anak dibimbing untuk berkata benar dan berani mengakui kesalahan. Aku Siap menjadi Saksi Kristus: anak-anak diajak menjadi teladan di rumah dan sekolah. Selain itu, anak-anak dilatih untuk berdoa dengan baik dan benar, baik doa spontan maupun doa-doa Gereja. Mereka juga diajarkan untuk menghargai sesama, terutama orang tua sebagai sosok yang pertama kali menghadirkan kasih Allah dalam keluarga. Reti dan Bruder Viktor sering mengingatkan bahwa menghormati orang tua adalah bagian dari iman yang nyata, bukan hanya teori. Dalam Surat Gembala Masa Prapaskah dari Uskup Agung Ende, ditegaskan bahwa peduli pada anak usia dini berarti peduli pada masa depan Gereja dan masyarakat. Sabda Yesus dalam Injil Matius 18:10 juga menegaskan: “Ingatlah, janganlah kamu menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini.” Sabda ini menjadi dasar iman bahwa anak-anak memiliki martabat yang luhur di hadapan Allah. mereka bukan hanya pelengkap komunitas, melainkan bagian penting dari Kerajaan Allah. anak adalah gambaran berharga dan masa depan Gereja serta masyarakat.

Sementara itu, dalam Surat Yakobus 1:27, ditegaskan bahwa merawat yang kecil dan lemah merupakan bagian dari ibadat sejati. Pesan ini menjadi landasan pelayanan Reti dan Bruder Viktor. mereka menyadari bahwa mendampingi 14 anak kecil berarti sedang membangun masa depan Gereja dan masyarakat. di tengah perkembangan zaman dan gemerlap teknologi, Reti memiliki keprihatinan yang mendalam. Ia melihat banyak anak yang lebih sibuk dengan gadget daripada dengan doa dan menghabis waktu bersama keluarga, ada juga yang sibuk melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti mencuri, melakukan kekerasan fisik dan verbal serta rendahnya moral dan etika.Reti pernah mengungkapkan: “Saya prihatin melihat anak-anak sekarang lebih akrab dengan layar daripada dengan Tuhan. teknologi memang penting, tetapi iman dan karakter jauh lebih penting. kalau sejak kecil mereka tidak dibimbing dengan baik, bagaimana masa depan Gereja dan bangsa kita nanti?”

Keprihatinan ini justru menjadi motivasi baginya untuk terus melayani. Ia berharap anak-anak yang ia dampingi dapat bertumbuh menjadi anak yang beriman Kristiani dengan sungguh-sungguh, memiliki karakter jujur dan bertanggung jawab, menghormati orang tua dan menghargai sesama dan berani menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari

Pelayanan Reti bersama Bruder Viktor menunjukkan bahwa keberpihakan kepada anak usia dini bukan sekedar wacana, tetapi tindakan nyata. Dari ruang sederhana Sekolah Minggu, dari doa-doa kecil dan nyanyian penuh sukacita, masa depan Gereja sedang dipersiapkan. Ketika kaum muda seperti Reti dibimbing oleh pendamping yang bijaksana seperti Bruder Viktor, lahirlah pelayanan yang kuat dan penuh makna. Mari berbagi kasih dengan melayani. “Melayani anak hari ini berarti menjaga iman Gereja dan masa depan bangsa untuk hari esok. Salam Persaudaraan Kasih Damai”.