
Dalam hiruk-pikuk dunia modern yang bergerak cepat, manusia kerap kehilangan ruang untuk berhenti, mendengar, dan mengenal dirinya sendiri. Sekolah, sebagai ruang pembentukan manusia, tidak hanya bertugas mencerdaskan akal, tetapi juga membina hati, karakter, dan makna hidup. Kesadaran inilah yang menjadi latar pelaksanaan retret siswa kelas XII SMK Gonzaga Mbay di Kemah Tabor Mataloko, sebuah ruang sunyi yang memungkinkan manusia kembali pada hakikat dirinya.

Retret yang berlangsung selama tiga hari dua malam, dari Minggu, 15 Februari hingga Selasa, 17 Februari 2026, diikuti oleh 61 siswa kelas XII. Mereka didampingi oleh tiga wali kelas, satu guru agama sebagai penanggung jawab kerohanian, serta Br. Viktor CSA selaku Kepala Sekolah. Retret ini dibawakan oleh P. Pastrisius Pa, SVD sebagai narasumber, dengan tema “Benih yang Bertumbuh: Dari Kelas SMK Menuju Ladang Dunia dengan Semangat Persaudaraan, Kasih, dan Damai.”
Secara filosofis, tema ini menyentuh inti eksistensi manusia. Manusia adalah being-in-the-making—makhluk yang sedang menjadi. Seperti benih, manusia tidak langsung sempurna, melainkan harus melalui proses: ditanam, dirawat, dan bertumbuh dalam waktu. Retret ini menjadi ruang jeda agar para siswa menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang hasil, nilai, atau kelulusan, melainkan tentang proses menjadi manusia yang bermakna.
Keheningan sebagai Jalan Pulang
Seluruh rangkaian retret diawali dengan Perayaan Ekaristi pembukaan pada Minggu sore pukul 18.00 WITA. Dalam khotbah pembukaan, Pater Pastrisius menyoroti realitas remaja masa kini yang kian memprihatinkan: pelajar yang kehilangan kesadaran akan identitasnya, terjebak dalam perilaku destruktif seperti merokok, miras, narkoba, hingga kehamilan di usia sekolah. Kritik ini bukan sekadar moralistik, melainkan refleksi eksistensial: manusia yang kehilangan arah hidup akan mudah terseret oleh arus dunia.

Karena itu, Pater menegaskan bahwa retret adalah waktu untuk kembali ke dalam diri, kembali ke keheningan. Keheningan bukan kekosongan, melainkan ruang subur tempat kesadaran lahir. Pada Sesi I, keheningan dipahami sebagai sesuatu yang kudus, menciptakan, dan membawa damai. Keheningan menjadi jalan pulang—tempat manusia bertemu dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Bahkan Yesus sendiri, dalam Injil, selalu menyediakan waktu untuk menyendiri dan berdoa. Artinya, keheningan adalah kebutuhan dasar manusia.
Mengenal Diri sebagai Imago Dei
Hari kedua diawali dengan meditasi pagi pukul 06.15 WITA yang dipimpin oleh Br. Viktor. Dalam meditasi ini, siswa diajak menelusuri kecemasan, luka, dan pergulatan hidup mereka. Secara filosofis, ini adalah proses self-awareness kesadaran diri yang menjadi fondasi etika dan tanggung jawab. Manusia yang mengenal dirinya akan lebih mampu mengelola hidupnya.
Kesadaran ini diperdalam dalam Sesi II, ketika siswa diajak mengenal diri sebagai “Imago Dei” citra Allah. Hal ini berarti bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh prestasi, latar belakang ekonomi, atau jurusan keahlian, melainkan melekat pada kodratnya sebagai manusia. Kesadaran sebagai Imago Dei mengantar manusia untuk hidup secara bermartabat, meneladani nilai-nilai ilahi dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Sukacita, Talenta, dan Tanggung Jawab
Pada Sesi III, Pater mengawali dengan pertanyaan eksistensial: “Apakah kalian bahagia berada di tempat ini?” Pertanyaan ini mengingatkan pada pengalaman Petrus di Gunung Tabor saat peristiwa transfigurasi. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari kepemilikan materi, melainkan dari pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Namun, kebahagiaan itu tidak untuk disimpan; setelah turun dari gunung, para murid diutus kembali ke dunia. Retret menjadi bekal, bukan tempat pelarian.
Pengutusan ini dipertegas dalam Sesi IV, ketika siswa diajak merefleksikan talenta mereka di bidang TSM dan DKV. Dalam perspektif etika dan moral, talenta bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan tanggung jawab etis. Perumpamaan tentang talenta mengajarkan bahwa hidup manusia dinilai dari kesetiaan dan tanggung jawabnya dalam mengembangkan apa yang dipercayakan kepadanya.

Pada Sesi V, refleksi diarahkan pada perjuangan meraih cita-cita. Cita-cita secara filosofis disebut sebagai orientasi hidup. Namun, cita-cita tanpa ketekunan, disiplin, dan etika adalah sia-sia. Hidup yang bermakna menuntut kerja keras dan kesetiaan pada proses.
Etika, Relasi, dan Pengutusan
Meditasi pagi pada Selasa, 17 Februari, kembali dipimpin oleh Br. Viktor dengan penekanan pada etika hidup. Kecerdasan tanpa etika melahirkan manusia yang cakap tetapi berbahaya. Karena itu, siswa diajak menjadi pribadi yang unggul dalam bidang keahlian sekaligus berkarakter dalam relasi sosial.
Rangkaian retret dilengkapi dengan kegiatan outbond, yang melatih virtues atau keutamaan: kesabaran, kerja sama, fokus, dan kesetiaan. Refleksi bersama membantu siswa menyadari bahwa hidup adalah proses, bukan sekadar hasil.
Momen paling personal terjadi ketika siswa menulis surat untuk orang tua. Dalam filsafat relasi, manusia tidak pernah berdiri sendiri; ia lahir dari cinta dan bertumbuh dalam relasi. Surat-surat ini menjadi pengakuan diam-diam bahwa keberhasilan masa depan selalu berakar pada pengorbanan orang tua.
Menjadi Ragi yang Baik
Retret ditutup dengan Perayaan Ekaristi penutup yang dipimpin oleh Pater Pastrisius Pa, SVD. Dalam khotbahnya, siswa diajak menjadi “ragi yang baik” di tengah masyarakat. Secara simbolik, ragi bekerja dalam diam, tetapi mengubah keseluruhan adonan. Inilah panggilan lulusan SMK Gonzaga: hadir secara sederhana, tetapi membawa transformasi.
Sebagai penutup, Br. Viktor menyampaikan terima kasih kepada Pater Pastrisius dan seluruh pengelola Kemah Tabor Mataloko, disertai harapan agar tempat ini tetap menjadi ruang pembinaan rohani bagi siswa kelas XII di tahun-tahun mendatang.
Retret ini akhirnya bukan sekadar agenda sekolah, melainkan perjalanan iman dan spiritual sebuah proses menanam benih kesadaran agar para siswa, ketika kembali ke ladang dunia, bertumbuh menjadi manusia yang beriman, berkarakter, dan bermakna.
SALAM PKD




